Semua orang sedang sibuk dengan berbagai hiruk pikuk pernikahan sahabatku. Kulihat Didi tampak sebal dikamarnya. Ia adalah keponakan sahabatku yang akan menikah itu. Didi anak perempuan yang manis berusia sekitar 5 tahun saat itu. Ia cukup cerdas untuk anak seusianya. Dan sebagai orang ‘luar’ yang sama sekali tidak mengerti tetek bengek persiapan pernikahan jawa, aku memilih menemani Didi.
Didi merasa kesenangan mendapat teman. Anak itu langsung saja bercerita panjang lebar, walaupun kulihat anak itu agak kecewa dengan reaksiku.
“Aduh, maaf Di. Waktu kakak seumuran kamu, kakak hanya mengerti cerita si Unyil dan mainan congklak. Kakak benar-benar buta soal zega, Barbie, dan playstation.”, kataku jujur sambil tetap berusaha menyimak cerita-ceritanya. Setengah jam berlalu, Didi kehabisan bahan omongan.
“Sekarang, gantian kakak yang cerita!”
“O’o! Cerita apa ya?”, aku kebingungan sendiri. Akhirnya aku mulai bercerita beberapa versi HC Andersen dengan sedikit improvisasi dariku. Didi kesenangan. Aku menambahkan sedikit nasehat disetiap akhir ceritaku yang berhubungan dengan Tuhan Yesus. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang disengaja, tetapi demikianlah yang dulu selalu dilakukan Ibuku saat bercerita padaku menjelang tidur.
“Kakak guru sekolah minggu, ya?”, tanya Didi.
“Kalau iya kenapa?”, jawabku sedikit ragu.
“Didi sudah nonton film Tuhan Yesus!”
“Oya? Ceritanya apa aja Di?”, tanyaku. Dan, Didipun mulai mengoceh panjang lebar. Rupanya ia menonton versi klasik yang agak panjang dan rumit sehingga beberapa penggalan agak terpotong. Dan aku cukup maklum, ketika dia mengira bayi yang lahir di kandang hewan itu adalah pribadi yang berbeda dari pria dewasa yang disalibkan. Maka mulailah aku mengulangi cerita itu dengan bahasa yang lebih mudah. Walaupun aku tidak yakin ia akan lebih tertarik pada cerita Tuhan Yesus daripada ultraman.
“Kenapa raja Herodes mau membunuh bayi itu,Kak?”, tanyanya antusias. Di lain kesempatan ia menyela lagi, “Oooo…jadi yang memberi makan 5000 orang itu, Tuhan Yesus yang udah gede ya, kak?” dan begitulah seterusnya. “Tuhan Yesus bisa nyembuhin Kakek Didi juga dong!”
Tanpa terasa aku telah menceritakan hampir semua kisah dalam Injil yang kuketahui dan Didi terus berharap aku menceritakan lebih dan lebih lagi tentang Tuhan Yesus. Hingga sampailah aku pada cerita penyaliban. Kali ini Didi tidak banyak berceloteh, dia mendengar dengan seksama. Sangat seksama. Aku berusaha bercerita dengan sehati-hati mungkin, mencegah unsur sadisme tanpa mengurangi makna pengorbanan Tuhan Yesus dengan bahasa anak-anak. Ketika aku selesai, Didi tetap termenung.
“Kakak, tau nggak, Didi sangat sedih waktu melihat orang-orang itu memukul Tuhan Yesus. Kasihan
“Itu karena Tuhan Yesus sangat mengasihi kita, Di. Didi tahu tidak apa yang Tuhan Yesus katakana waktu dia sudah digantung di kayu salib?”, Didi mengeleng.
“Tuhan Yesus bilang, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!”, kulihat mata Didi berkaca-kaca.
“Kakak, Didi pengen deh mecahin TV”
“Hah??!”
“Didi mau marahin orang-orang jahat itu. Didi mau mengambil Tuhan Yesus, biar Didi yang ngerawat luka-lukanya!”
Aku melongo kebingungan melihat reaksi Didi.
“Didi tidak takut kesetrum?”, tanyaku polos tanpa pikir panjang, walaupun kemudian aku sadar betapa bodohnya pertanyaanku.
“Tidak kak! Didi tidak takut kesetrum! Didi sayang Tuhan Yesus!”, aku tersenyum melihat anak perempuan dihadapanku ini.
“Didi mau tahu tidak kelanjutan cerita tersebut dan apa yang harus Didi lakukan kalau Didi sayang Tuhan Yesus?”, dan akupun mulai bercerita tentang kebangkitan, kenaikan dan janji penghiburan Tuhan Yesus. Dan tak terasa banyak sekali hal yang indah yang kami rasakan saat itu.
Aku senang telah memperkenalkan Tuhan Yesus pada Didi dan untuk pertama kalinya aku merasa sangat bangga menjadi guru sekolah minggu.
“Didi sudah tidur ya? Tumben hari ini tidak berisik?”, kepala sahabatku yang adalah tantenya Didi muncul dari balik pintu. “Wah, kamu apakan keponakanku sampai jadi manis begini?”
Aku dan Didi tersenyum.
“Didi dengar cerita Tuhan Yesus!”, kata Didi dengan riang. Setelah itu terbahak-bahak setelah mendengar aku berbisik, “Tapi tidak usah mecahin TV ya, kayaknya Tuhan Yesus juga tidak mau Didi kesetrum!”


2 comments:
Ah Si Didi pasti TVnya bukan TV LCD. Omong2, gw prihatin anak2 sekarang lebih hafal bercerita tentang Naruto daripada tentang Malinkundang. Mereka juga lebih fasih mendendang, "Oo... oo.. kamu ketahuan pacaran lagi..." daripada "Bunga Nusa Indah berwarna merah. Tumbuh di halaman depan rumahku." Nggak heran kalo negara kita nggak sadar bahwa dirinya sedang krisis identitas, termasuk saya. Lho, memang saya siapa kok bisa berbicara seperti ini. Sudahlah...
Shalom,
Blog kamu Bagus & inspiratif buat saya pribadi. Smoga buat pengunjung yg lain jg. Tetaplah menulis...
JBU.
PS: Mengundangmu jalan-jalan ke blog saya:
http://islamexpose.blogspot.com
Post a Comment