Tuesday, February 12, 2008

Papa dan Paska

Semua orang kristen, pasti pernah mengalami atau setidak-tidaknya mengetahui kegiatan menghias telur Paska pada masa kanak-kanak. Demikian juga saya. Tentu saja itu kegiatan yang menyenangkan. Buat saya, itu bukan cuma menyenangkan tetapi juga sangat istimewa. Semuanya karena Papa dan segala sesuatu tentang Papa pasti istimewa.

Papa saya memang tidak menyukai sesuatu yang biasa-biasa saja. Jadi sementara anak-anak lain hanya membuat coretan warna-warni pada telur atau melingkari kertas berkilap pada telur, Papa membuatkan telur hias yang punya cerita. Mulai dari petualangan mencari berbagai pernak-pernik seperti koran bekas dan cat air, hingga mulailah Papa merangkai telur hiasku. Papa menceritakan minggu-minggu sengsara Yesus, menceritakan prosesi jalan salib, saat penyaliban, saat Yesus mati dan dikuburkan. Semuanya diceritakan sambil Papa terus menghias telur hingga jadilah telur hias Papa. Sebuah deorama mini berbentuk goa batu. Bagus sih tapi “dimana telurnya?”. Saya kebingungan karena telurnya hanya digeletakkan begitu saja di dekat kubur batu bikinan Papa. “Papa, kenapa telur itu tidak menjadi inti hiasan Paskaku? Kenapa kubur batu kosong itu?”, tanyaku kecewa. Papa menggelengkan kepala. “Percuma dong menjelaskan panjang lebar dari tadi kalau kamu masih melihat telur sebagai inti dari Paska?!”. Saya masih bingung. Papa dengan sabar kembali menjelaskan tentang artinya merayakan Paska. Ia meletakkan telur itu dan mengatakan, “Ini adalah batu penutup kubur Yesus yang telah terguling karena Yesus sudah bangkit dan tidak lagi berada di dalam kubur. Anakku, jangan terus melihat pada batu ini lagi ya.. jangan biarkan telur atau apapun menjadi penghalang kamu melihat inti Paska. Yesus yang disalibkan dan mati, sudah bangkit! Kita semua diselamatkan!”.

Karena pengalaman masa kecil itu, sampai kapanpun saya tidak akan biarkan hal-hal dekoratif ataupun kesulitan-kesulitan lainnya bak batu penutup kubur itu menjadi penghalang saya mengamini bahwa Yesus yang mati dan dikuburkan itu sudah bangkit dan menang. Ia menyelamatkan saya dan semua orang. Menyelamatkan Anda juga.

Terima kasih Papa, untuk mengenalkan Tuhan Yesus pada saya sejak masa kecil saya.

Terima kasih Tuhan Yesus, untuk menyelamatkan saya.

0 comments: