Tahun ini Indonesia memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, dan rasa-rasanya berbagai kegiatan sehubungan dengan peringatan tersebut lebih meriah tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena ini tahun ke-100 (so what gitu lho?).
Tapi entah kenapa, tahun ini pulalah rasanya gw sulit mengapresiasi ini itu yang dipersiapkan sehubungan dengan peringatan ke-100 ini. Melihat ke belakang, tanggal 20 Mei besok yang juga bertepatan dengan hari Waisak, adalah 100 tahun berdirinya organisasi Budi Utomo. Jika menilik pada latar belakang para tokoh pemuda saat itu, maka perjuangan yang diusung bukanlah perjuangan fisik, melainkan semangat kebangsaan dan juga pemerataan pendidikan. Para tokoh seperti Dr. Wahidin, Dr. Cipto, Dr. Sutomo, dsb adalah orang-orang yang mencoba berjuang bukan dengan mengangkat senjata tetapi melalui sikap terpelajar. Walaupun memang banyak dipengaruhi oleh latar belakang priyayi mereka, tapi menurut gw hal ini juga adalah satu poin penting. Bangsa ini sepertinya mulai (atau telah?) kehilangan harga diri dan martabatnya. Sejujurnya gw agak riskan menulis pernyataan tersebut, karena hal itu bukan harapan gw, tapi apa mau dikata.. orang-orang yang tidak bodoh menggunakan ketidakbodohannya untuk membodohi dengan sepenuh hati, orang-orang yang berkuasa menggunakan kekuasaannya dengan segenap jiwa dan senyum tulus, sementara orang-orang miskin mulai menikmati kemiskinan dan mentalitas miskinnya.
Jadi, apa yang sebenarnya kita peringati?
Buat gw, Kebangkitan Nasional seharusnyalah diwarnai dengan segudang prestasi dan bukan kegiatan-kegiatan seremonial yang hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kebangkitan Nasional harusnya ditandai dengan semangat pembebasan atas keterkungkungan sistem, kebodohan, dan kemunafikan. Tapi gw cukup berbangga, karena di jalur olahraga, tahun ini tim PSSI dan Tim Uber Indonesia cukup menunjukan prestasi luar biasa. Ya, prestasi! Kupikir itu kata kuncinya, kita harus menunjukan 'prestasi'! Tentunya bukan prestasi sebagai negara terkorup, atau di best money laundry country, bukan! Tapi prestasi yang menunjukkan martabat dan harga diri bangsa.
Tapi untuk mengukir prestasi, jalannyapun sangat berliku. Liku-liku yang disebabkan oleh sesama anak bangsa. Anak-anak bangsa yang sibuk saling menyikut, dan memberikan peluang-peluang lenyap diambil orang-orang lain. Kapan? Kapan kita bisa membebaskan diri dari mentalitas terjajah?
Ah, itu lagi kata kunci yang lain! Kita terlalu sibuk mengeluh, bung! Kita mengeluh memang beralasan, karena daftar keluhan adalah satu-satunya yang bisa bersaing dengan antrian kemacetan ibukota pada jam kerja. Tapi keluhan bukanlah the way out, bung! Putuskanlah untuk menghabiskan energi tidak semata-mata untuk mengeluh. Cuma kita yang bisa menolong (minimal) diri kita sendiri dan komunitas kita.
Pak SBY, pak SBY... tahukah dirimu? Demi membuat dirimu senang dengan perayaan yang ramai, murid-muridku tidak datang belajar sabtu kemaren dan ibu-ibu binaanku memilih berpanas-panasan di Monas daripada belajar menabung?? Hehehe.. ga usah sedih pak SBY, itu bukan salahmu! Mereka hanya terlalu sayang padamu.. jadi belajarlah untuk menyayangi mereka juga dengan membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak.
Jadi.. Kebangkitan Nasional sekali lagi menyapa kita. Jangan sekedar memperingati, bersedia jugalah diperingati (atau 'diperingatkan?') untuk jadi bangsa yang bebas dan bermartabat dan punya harga diri, yang tahu untuk apa dan mengapa, untuk bijaksana dan bijaksini.
Btw, haruskah kuucapkan selamat Hari Kebangkitan Nasional kala kita masih sakau?
--
Jakarta, 080519
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment