Tanggal 20 kemaren, subuh-subuh aku dan adik sepupuku yang baru kelas 5 SD udah nongol di Gelora Bung Karno Senayan dalam rangka jogging hehe.. biar sehat bo! Sambil lari-lari keliling stadion, kami memperhatikan bahwa ada persiapan perhelatan akbar. Dan sambil celingak-celinguk kanan-kiri, kamipun akhirnya mengetahui bahwa malam nantinya akan ada perayaan Hari Kebangkitan Nasional plus deklarasi Indonesia Bisa!
Jam 7-an adikku itu dengan semangat '45 duduk manis depan TV untuk melihat siaran langsung perhelatan tersebut sambil ikut-ikutan menyanyikan lagu-lagu nasional. Akupun akhirnya ikut-ikutan nonton juga sembari teringatnya jaman masih sekolah.. tiap ada agenda nasional, aku pasti ikutan upacara dengan seragam pramuka, kalo paduan suara jarang diajak soalnya suaraku terlalu 'indah' hehe, konfigurasi pernah ikutan, trus tarian massal juga. Waktu aku masih sekolah dulu, 'it was something precious for me', itu menyenangkan hatiku.. membuatku merasa menjadi bagian dari sesuatu.. tetapi aku belum tahu waktu itu bahwa 'it just a ceremonial' dan 'it just a little bit of entertainment for those sitted nicely at the podium'.
Tapi apapun itu, aku senang melihat anak-anak usia sekolah tersebut menampilkan atraksi yang mengagumkan (tersenyumlah kalian dan jangan pacaran dulu), dan para mahasiswa memadukan suaranya dengan indah (would you be like that on your next demo?), aku juga senang banget melihat barisan para pelajar terbaik Indonesia yang berbaris dengan jas hitam (berdukakah kalian pada negeri ini?). Namun ketika pandanganku beralih pada 'hadirin yang kami hormati dan kami muliakan', rasa-rasanya sedih sekali. Seperti deretan raga, yang tak lagi bernyawa kebangsaan.
Deklarasi Indonesia Baru itu sendiri terdengar seperti tangisan memilukan ditelingaku. Indonesia bisa! Indonesia bisa! Bukan berarti aku tak percaya bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju, bangsa yang pintar, bangsa yang hijau, bangsa yang bebas dari kemiskinan dan a lot of bisa (could you heard voice of the snake that says i have 'bisa' also... zzzzsss). Bagaimana mungkin kita bicara bisa saat kita tak satu dalam derap. Aku percaya Indonesia bisa melalui semua cobaan ini, tetapi dengan tidak mempercayakan nasib bangsa ini pada mereka yang berbisa.
Selain percaya pada Allah yang mempercayakan kita mendiami negeri ini, kita harus punya cukup rasa percaya diri untuk mengatakan ya adalah ya dan tidak adalah tidak. Ya untuk semua potensi yang kita miliki untuk sumbangkan bagi kejayaan negeri tercinta, dan tidak untuk semua peluang yang walaupun semanis madu tetapi mendukakan hati Tuhan dan menistakan ibu pertiwi.
Ayam berkokok kepagian, memaksa kami bangun sambil kleyengan, setelah itu terjerembab lagi, menambah satu lebam waktu pagi belum jua menyingsing... kau yang mencoba menentukan nasib kami, pernahkah kau rasakan lapar mendera? kau yang berbicara atas nama kami, menengokkah kau saat kami tumbang satu per satu? kau yang berbisa, tak 'kan kau lumatkan tumit kami.. karena Indonesia bisa bila kami katakan Indonesia bisa!
Tiba-tiba adikku teriak, "Kak, obornya sudah menyala!", merah putih raksasa membentang di Gelora Bung Karno dan kembang-kembang api dinyalakan. Bangsa ini sedang berhalusinasi saat di luar sana penderita gizi buruk terus bertambah. Tapi bila melihat pada anak-anak yang kegirangan dan tepuk tangan yang membahana, serta prestasi-prestasi yang dipungut satu per satu di jalan terjal berliku.. bukankah harapan itu masih ada?!
Tuhan.. ke dalam tangan-Mu kuletakkan nasib bangsa ini, dan kiranya hanya pada yang Kau berkati Indonesiaku bisa tersenyum lagi! Coz my country so long no smile..
--
Jakarta, 080521
Jam 7-an adikku itu dengan semangat '45 duduk manis depan TV untuk melihat siaran langsung perhelatan tersebut sambil ikut-ikutan menyanyikan lagu-lagu nasional. Akupun akhirnya ikut-ikutan nonton juga sembari teringatnya jaman masih sekolah.. tiap ada agenda nasional, aku pasti ikutan upacara dengan seragam pramuka, kalo paduan suara jarang diajak soalnya suaraku terlalu 'indah' hehe, konfigurasi pernah ikutan, trus tarian massal juga. Waktu aku masih sekolah dulu, 'it was something precious for me', itu menyenangkan hatiku.. membuatku merasa menjadi bagian dari sesuatu.. tetapi aku belum tahu waktu itu bahwa 'it just a ceremonial' dan 'it just a little bit of entertainment for those sitted nicely at the podium'.
Tapi apapun itu, aku senang melihat anak-anak usia sekolah tersebut menampilkan atraksi yang mengagumkan (tersenyumlah kalian dan jangan pacaran dulu), dan para mahasiswa memadukan suaranya dengan indah (would you be like that on your next demo?), aku juga senang banget melihat barisan para pelajar terbaik Indonesia yang berbaris dengan jas hitam (berdukakah kalian pada negeri ini?). Namun ketika pandanganku beralih pada 'hadirin yang kami hormati dan kami muliakan', rasa-rasanya sedih sekali. Seperti deretan raga, yang tak lagi bernyawa kebangsaan.
Deklarasi Indonesia Baru itu sendiri terdengar seperti tangisan memilukan ditelingaku. Indonesia bisa! Indonesia bisa! Bukan berarti aku tak percaya bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju, bangsa yang pintar, bangsa yang hijau, bangsa yang bebas dari kemiskinan dan a lot of bisa (could you heard voice of the snake that says i have 'bisa' also... zzzzsss). Bagaimana mungkin kita bicara bisa saat kita tak satu dalam derap. Aku percaya Indonesia bisa melalui semua cobaan ini, tetapi dengan tidak mempercayakan nasib bangsa ini pada mereka yang berbisa.
Selain percaya pada Allah yang mempercayakan kita mendiami negeri ini, kita harus punya cukup rasa percaya diri untuk mengatakan ya adalah ya dan tidak adalah tidak. Ya untuk semua potensi yang kita miliki untuk sumbangkan bagi kejayaan negeri tercinta, dan tidak untuk semua peluang yang walaupun semanis madu tetapi mendukakan hati Tuhan dan menistakan ibu pertiwi.
Ayam berkokok kepagian, memaksa kami bangun sambil kleyengan, setelah itu terjerembab lagi, menambah satu lebam waktu pagi belum jua menyingsing... kau yang mencoba menentukan nasib kami, pernahkah kau rasakan lapar mendera? kau yang berbicara atas nama kami, menengokkah kau saat kami tumbang satu per satu? kau yang berbisa, tak 'kan kau lumatkan tumit kami.. karena Indonesia bisa bila kami katakan Indonesia bisa!
Tiba-tiba adikku teriak, "Kak, obornya sudah menyala!", merah putih raksasa membentang di Gelora Bung Karno dan kembang-kembang api dinyalakan. Bangsa ini sedang berhalusinasi saat di luar sana penderita gizi buruk terus bertambah. Tapi bila melihat pada anak-anak yang kegirangan dan tepuk tangan yang membahana, serta prestasi-prestasi yang dipungut satu per satu di jalan terjal berliku.. bukankah harapan itu masih ada?!
Tuhan.. ke dalam tangan-Mu kuletakkan nasib bangsa ini, dan kiranya hanya pada yang Kau berkati Indonesiaku bisa tersenyum lagi! Coz my country so long no smile..
--
Jakarta, 080521


0 comments:
Post a Comment