Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman baik gw, menyatakan pendapatnya tentang kemiskinan. Menurutnya berinteraksi dengan orang miskin itu melelahkan, terutama lelah secara emosi. Ia tidak keberatan memberikan derma kepada orang miskin, tetapi ia menolak untuk berinteraksi dengan mereka. Ketakutannya cukup beralasan. Ketakutan yang sama pula yang menjadi backscene dari Fainthearted (tulisan lama gw).
Beberapa waktu yang lalu pula, gw terlibat dalam program Galeri Puisi Bulan Kespel '08 di GKI Kebayoran Baru. Dan komentar dari beberapa pesertanya senada, "Sil, lo buat hari-hari gw jadi sendu dan blue". What's up? Ceritanya tema yang disodorkan adalah, "Kemiskinan di mataku", dan dalam proses buka mata, buka hati, serta cari inspirasi dalam pembuatan puisi-puisi tersebut banyak teman yang jadi murung saking kontemplatif. Ga semuanya sih hehe.. tapi beberapa mengeluh demikian.
Kenapa?
Mungkin alasan-alasan bahwa berbicara tentang kemiskinan dan terlibat dalam komunitas miskin menyerap begitu banyak emosi yang melelahkan. Sehingga sangat jarang kita bisa secara penuh merelakan diri turut serta dalam gumul juang mengentaskan kemiskinan. Jadinya seperti berteriak kepada orang yang tercebur di kolam yang dalam, "ayo, bangkit! ayo berjuang melawan kemiskinan! ayo sonsong kemajuan!", tapi kita hanya sebatas teriak di pinggiran kemiskinan. Tanpa bersedia mengulurkan tangan dan membantu.
Nyontek dari liriknya Panji yang di kasi tau ama Wiwin (soalnya gw jg belum denger hehehe..):"Jika ini bukan negara babu, anak bangsa mana karyamu?"
blessings,
Ge'
Beberapa waktu yang lalu pula, gw terlibat dalam program Galeri Puisi Bulan Kespel '08 di GKI Kebayoran Baru. Dan komentar dari beberapa pesertanya senada, "Sil, lo buat hari-hari gw jadi sendu dan blue". What's up? Ceritanya tema yang disodorkan adalah, "Kemiskinan di mataku", dan dalam proses buka mata, buka hati, serta cari inspirasi dalam pembuatan puisi-puisi tersebut banyak teman yang jadi murung saking kontemplatif. Ga semuanya sih hehe.. tapi beberapa mengeluh demikian.
Kenapa?
Mungkin alasan-alasan bahwa berbicara tentang kemiskinan dan terlibat dalam komunitas miskin menyerap begitu banyak emosi yang melelahkan. Sehingga sangat jarang kita bisa secara penuh merelakan diri turut serta dalam gumul juang mengentaskan kemiskinan. Jadinya seperti berteriak kepada orang yang tercebur di kolam yang dalam, "ayo, bangkit! ayo berjuang melawan kemiskinan! ayo sonsong kemajuan!", tapi kita hanya sebatas teriak di pinggiran kemiskinan. Tanpa bersedia mengulurkan tangan dan membantu.
Nyontek dari liriknya Panji yang di kasi tau ama Wiwin (soalnya gw jg belum denger hehehe..):"Jika ini bukan negara babu, anak bangsa mana karyamu?"
blessings,
Ge'


0 comments:
Post a Comment